All posts by nature

PRESS RELEASE HARI ANTI KORUPSI

PRESS RELEASE

IKATAN AHLI LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA

DALAM RANGKA HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA

Surakarta, 11 Desember 2014

Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (IALHI) menilai bahwa fenomena korupsi di bumi Nusantara sudah sangat mengkhawatirkan. Berbagai kasus korupsi dipertontonkan secara lumrah di media. Masyarakat disuguhi berita korupsi oleh berbagai petinggi, yang seharusnya menjadi teladan dan panutan.

Ironisnya, tindak pidana korupsi justeru dilakukan dalam pengelolaan sumber daya alam, yang seharusnya dipergunakan untuk sebesar besar kemakmuran rakyat. Di sisi lain, diketahui bahwa sumber daya alam dan lingkungan hidup sesungguhnya bukan hanya milik generasi sekarang, namun juga titipan generasi mendatang. Dengan demikian, pengelolaan yang tidak baik disertai tindakan korupsi, rasa-rasanya sudah menjadi delik kejahatan lintas generasi. Hukuman ganda sudah seharusnya dikenakan terhadap kasus kejahatan ini.

Komisi Pemberantasan Korupsi kini tengah menangani berbagai kasus korupsi. Pada awalnya kasus ini banyak terjadi di sektor keuangan, terutama pajak dan perbankan. Kemudian bergeser ke ranah politik, terkait dengan sengketa Pilkada. Namun kini telah merambah ke ranah pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, yang diantaranya tercatat kasus migas, alih fungsi hutan, sampai dengan penyimpangan izin dan suap kegiatan pertambangan.

Prediksi Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia, kasus korupsi terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup di masa mendatang akan semakin meningkat. Alasan yang menyertai adalah karena sektor tersebut dianggap paling menjanjikan, mudah, tersedia, dan tidak pernah habis. Anggapan tersebut membuat berbagai pihak yang memiliki akses kekuasaan dan pengaturan memainkan kewenangannya.

Hal ini sudah seharusya menjadi perhatian Bangsa Indonesia, apabila benar-benar ingin membangun kesejahteraan rakyatnya. Kita tidak mau menjadi bangsa yang terkutuk, karena kesalahan kelola terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup. Berbagai ahli di dunia kini sedang mengamati fenomena “resource curse“, yakni kegagalan negara-negara yang kaya sumber daya alam telah mengakibatkan kemiskinan rakyatnya, terutama karena kesalahan kelola, korupsi, dan peperangan yang memperebutkannya.

Untuk itu, dalam rangka memperingati hari Anti Korupsi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9 Desember, Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (IALHI) bekerjasama dengan Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana UNS dan Nature & Culture Institute (NCI) menyelenggarakan diskusi dan bedah buku “Jangan Korupsi Alam” di Kampus Pascasarjana UNS Surakarta pada tanggal 11 Desember 2014. Kegiatan ini sekaligus sebagai wujud penguatan komitmen anti korupsi dengan pendekatan budaya. Jalur pendidikan dan revitalisasi nilai-nilai budaya serta agama diyakini akan dapat mengerem nafsu koruptif manusia. Sudah saatnya dilahirkan Generasi Anti Korupsi Indonesia. 

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

  1. Dr. Tasdiyanto Rohadi
  2. Dr. Prabang Setyono

BUKU BARU “JANGAN KORUPSI ALAM”

3

Buku ini memuat kegemasan para pecinta hamparan Nusantara yang kaya akan sumber daya alam dan bentangan alam yang indah. Kondisi yang semakin memburuk telah membuat para penulis berlatar belakang mahasiswa, aktivis, praktisi dan birokrasi, baik dari dalam negeri maupun mancanegara mencurahkan keprihatinannya dan kemarahannya dalam buku “Jangan Korupsi Alam !”

Buku ini hadir menjadi salah satu referensi ilmu etika kontemporer, yang mendalami ilmu anti korupsi sumber daya alam dan  lingkungan hidup. Etika diyakini sebagai acuan benar dan salah,  namun praktik bersama mewujudkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang baik tanpa korupsi, menjadi wujud budaya yang ditunggu-tunggu. Gerakan bersama untuk menumbuhkan “Generasi Lingkungan Anti Korupsi” menjadi rekomendasi buku ini.

Pada bagian pertama, para penulis menampilkan fenomena konflik dan korupsi terkait pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Dimulai dari kasus konflik sumber daya air, migrasi pasir laut, dan berbagai kasus korupsi yang mengemuka ke publik. Kegemasan Penulis muncul ketika guru besar, pejabat publik dan tokoh berusia lanjut yang muncul sebagai aktor korupsi. Nada nyinyir dan mencemooh Penulis juga tampak, ketika tempat menjijikan, Tempat Pembuangan Akhir Sampah pun menjadi ajang korupsi.

Bagian kedua, para penulis dari mancanegara menyampaikan feno-mena korupsi di negaranya masing-masing. Illegal logging dan korupsi ternyata terjadi di Mozambique, korupsi di sektor tambang emas di Suriname, deforestrasi dan korupsi di Papua New Guinea, dan korupsi sektor kehutanan di Madagaskar. Rupa korupsi di mancanegara tersebut  diharapkan dapat memperkaya pemahaman kasus korupsi di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup, untuk dapat dicarikan pola  solusi yang terbaik.

Bagian ketiga, beberapa penulis mencoba mencari solusi dalam pencegahan tidak pidana korupsi tersebut, terutama dengan pendekatan pendidikan, revitalisasi local wisdom, pembangkitan kesadaran, dan perlunya membangun  gerakan mental bersama.

Buku ini ditulis dalam koridor akademik, dengan data dan fakta yang dapat tertelusur dan dipertanggungjawabkan. Para penulis sepakat bahwa tujuan penulisan buku ini adalah dalam rangka ikut berkontribusi memperkuat komitmen bersama dalam mencegah, mengurangi dan memberantas korupsi di bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Indonesia.

Penerbit